Menulis novel, bisa menjadi salah satu
wadah bagi seseorang untuk menyalurkan hobi, mengutarakan emosi, bisa juga
sebagai salah satu cara menambah penghasilan. Namun, terkadang bagi seseorang
yang baru saja hendak memulai menulis novel, akan timbul rasa bingung atas
langkah apa yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk memulainya. Eit! Tenang! Jangan bingung lagi, ya!
Di bawah ini ada beberapa poin penting yang
dapat diperhatikan untuk menulis novel bagi pemula.
1. Ide Cerita
Sebagai penulis,
kita pasti mempunyai daya khayal tinggi. Dari apa yang kita lihat, dengar, bahkan
yang kita alami sendiri pun, bisa menjadi sebuah ide dan dijadikan cerita untuk
novel yang akan kita tulis.
Untuk
lebih memudahkan mengurai ide dalam kepala, kita bisa melakukan beberapa cara
agar menemukan inspirasi guna memulai cerita yang akan kita tulis. Di
antaranya, kita bisa mencari inspirasi melalui cerita yang kita dengar, film
yang kita tonton, kejadian yang kita alami atau terjadi pada orang lain, dan
lain-lain. Dari sana, akan mulai tergambar cerita tentang apa yang akan kita
tuliskan.
2. Genre
Singkatnya,
genre adalah jenis cerita yang akan kita tulis. Menentukan genre sangatlah penting
dalam menulis novel agar isi dan alur cerita yang kita sampaikan kepada pembaca
fokus dan tepat sasaran. Ada beberapa genre yang bisa kita pilih untuk novel
yang kita tulis. Pilihlah genre yang paling ‘sreg’ dengan karakter kita, gaya
bahasa kita, isi ide kita, yang ‘aku’ banget agar dalam penulisan novelnya kita
bisa lebih leluasa dan santai, juga menghasilkan karya terbaik dengan ending berkesan
bagi pembaca.
Beberapa genre yang
dapat kita pilih berdasarkan ceritanya antara lain:
Ø
Romantis, fokus
pada kisah cinta dan kasih sayang tokoh dalam cerita.
Ø
Misteri/Kriminal, tentang
kejahatan atau teka-teki yang harus dipecahkan oleh tokoh dalam cerita.
Ø
Horor, genre
yang membuat tokoh dikelilingi hal-hal menakutkan, menegangkan, yang mana salah
satu target penulis adalah pembaca pun dibuat merinding ketika membacanya.
Ø
Komedi, menyematkan
cerita-cerita lucu dalam novelnya agar menghibur pembaca.
Ø
Sejarah, menceritakan
peristiwa, tokoh, atau kisah kehidupan masa lalu.
Ø
Petualangan, tentang
perjalanan yang penuh tantangan.
Ø
Fantasi, Fiksi
Ilmiah (Sci-Fi), Inspiratif, dan lain-lain.
3. Membuat Outline
atau Kerangka Cerita
Outline yaitu garis
besar atau rancangan isi novel yang memuat poin penting berupa alur cerita, tokoh
dan karakter tokoh, latar tempat, juga latar waktu. Pentingnya membuat outline adalah
untuk membantu penulis agar tidak keluar dari alur cerita yang disusun.
4. Tokoh dan Karakter Tokoh
Tokoh adalah pemeran yang dihadirkan
dalam cerita. Bisa berupa manusia, hewan, atau makhluk fiksi yang memiliki
kepribadian, latar belakang, dan peran tertentu dalam kerangka cerita. Tokoh
yang mempunyai ciri khas sangat penting untuk membuat cerita menjadi lebih hidup,
berkesan, dan menarik bagi pembaca yang mana dapat disebut juga sebagai Penokohan
atau Karakter Tokoh.
Berikut beberapa contoh Karakter Tokoh dalam novel, di
antaranya:
Ø Protagonis, yaitu tokoh utama. Dapat dilihat
dari seberapa fokus cerita terhadap tokoh tersebut, seberapa sering ia muncul
dalam cerita, serta durasi penceritaan tentang si tokoh. Dalam cerita, biasanya
protagonis atau tokoh utama memiliki sifat-sifat baik atau positif. Namun,
tokoh utama tidak selamanya bersifat baik. Ada pula yang karakternya
digambarkan tidak baik dengan tujuan agar menjadi pembelajaran bagi pembaca, supaya
tidak mencontoh karakter tokoh tersebut. Kita bisa ambil contoh cerita Si
Kancil Anak Nakal. Dalam cerita, Kancil senang mencuri timun, tentu itu
bukanlah sifat yang baik, tetapi nyatanya, Kancil adalah tokoh utama dalam
cerita tersebut.
Ø Antagonis, yaitu tokoh yang menjadi lawan
protagonis atau tokoh utama, seringkali menghadirkan konflik atau jadi penghalang
bagi tokoh utama dalam cerita.
Layaknya protagonis, antagonis sebenarnya tidak melulu
tokoh yang bersifat negatif karena sejatinya antagonis adalah lawan protagonis.
Kita bisa ambil contoh kisah tentang Malin Kundang. Dalam cerita, Malin Kundang
adalah tokoh utama, tetapi ia anak yang durhaka terhadap ibunya dan tentu itu
sifat yang tidak baik. Siapa yang menjadi penghalang Malin Kundang dalam kisah
tersebut? Ibunya. Meski ibunya memiliki sifat yang baik, tetapi dalam kisah ini
ia tetap pada posisi antagonis, yaitu lawan sang tokoh utama.
Ø Tritagonis, yaitu tokoh pendukung yang membantu
protagonis dalam mencapai tujuannya. Bisa memiliki sifat yang baik, bisa
juga sebaliknya.
Ø Foil, yaitu tokoh yang menunjukkan
sifat yang berlawanan atau berbeda untuk memperdalam pemahaman pembaca tentang
karakter tokoh utama. Kita bisa ambil contoh film Harry Potter. Dalam cerita, Draco
Malfoy adalah penggambaran tokoh foil. Sifat baik dan berani Harry Potter
semakin ditonjolkan dengan adanya sifat jahat dan pengecut Draco Malfoy.
Ø Karakter Datar (Flat Character), yaitu tokoh sederhana
yang memiliki satu atau dua sifat dominan dan tidak banyak mengalami perubahan
dalam cerita. Ia sering berperan sebagai tokoh
pendukung yang membantu memajukan cerita atau menyoroti sifat-sifat tokoh
utama.
Ø Karakter Bulat (Round Character), yaitu tokoh kompleks
yang memiliki banyak sifat dan mengalami banyak perkembangan dalam cerita,
seringkali mirip dengan karakter manusia di dunia nyata. Karakter ini bisa
juga dimiliki oleh sang tokoh utama atau protagonis. Kita ambil contoh Harry
Potter dalam film maupun buku. Dalam cerita, Harry pun digambarkan sebagai
karakter bulat, ia mengalami perubahan besar dan
mengembangkan karakternya sepanjang seri buku.
Ø Skeptis, yaitu tokoh yang memiliki
sikap ragu-ragu tentang sebuah hal atau kejadian dalam cerita. Ia akan menilai sesuatu
itu harus dengan adanya bukti yang akurat, bukan sekadar menerima informasi
yang ada secara mentah-mentah.
Ø Sidekick, yaitu teman
dekat, rekan, atau pendamping protagonis yang sering memberikan dukungan dan
bantuan.
Ø Contagonist,
yaitu tokoh pendukung yang karakternya berlawanan dengan tokoh utama.
Tidak sama dengan antagonis, contagonist sering diperkenalkan atau dimunculkan pada
tengah cerita untuk menciptakan atau memperpanjang konflik yang ada.
5. Mulailah Menulis
Setelah memahami beberapa
poin di atas, maka sudah saatnya bagi kita untuk mulai menulis. Tuangkan ide
yang ada berupa rangkaian tulisan. Susun cerita kita mulai dari awal kisah, terjadinya
konflik, puncak konflik, penyelesaian konflik, kemudian akhir konflik atau
ending cerita.
Setelah
menyelesaikan cerita, wajib bagi seorang penulis untuk membaca kembali
tulisannya agar apabila ada yang perlu diperbaiki baik dalam segi alur cerita
maupun konflik cerita, penulis dapat segera memperbaikinya.
Jangan
lupa, mintalah pendapat atau masukan dari pembaca, orang terdekat, maupun
sesama penulis tentang cerita yang kita tulis agar kemampuan kita semakin mumpuni.
Namun, apabila dirasa cerita yang kita tulis sudah mantap, kita bisa langsung
membagikannya kepada pembaca baik berupa postingan di sosial media, aplikasi
menulis, maupun mengajukannya kepada penerbit agar bisa diterbitkan serta dicetak
menjadi sebuah novel fisik tanpa harus berkonsultasi ke berbagai pihak terlebih
dahulu.
Menjadi seorang
penulis memang tidak mudah, tetapi konsistensi dalam menulis dan rajin
mempelajari banyak hal tentang menulis novel akan membuat kita semakin mahir
dalam bidang ini. Tetap semangat dan jangan menyerah, ya!
By WoPie Tasnim
***